chakra-news .com // Pare-Pare — Penerapan kantong belanja berbayar dan kebiasaan masyarakat menggunakan plastik menjadi pembahasan dalam sosialisasi reusable tote bag yang dilaksanakan mahasiswa KKN-T Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin.Rabu (22/07/2026).
Sosialisasi dilaksanakan oleh Muhammad Fikhar Suratman Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional dalam Program kerja individu KKN-T di jln Makkarennu Desa Mangimpuru,Kel Watang Bacukiki, Kec Bacukiki Kota Pare-pare,di ikuti oleh ibu-ibu rumah tangga.
Program tersebut bertujuan memberikan edukasi dan pemahaman mengenai alasan penggunaan kantong plastik perlu dikurangi sekaligus mengenalkan tas belanja pakai ulang sebagai alternatif yang dapat digunakan masyarakat.
Dalam sesi diskusi, peserta bernama Risma menceritakan pengalamannya saat berbelanja dan ditawari kantong ramah lingkungan dengan tambahan biaya.
“Biasanya ada juga yang menawarkan kantong ramah lingkungan, tetapi harganya sekitar Rp3.000 sampai Rp5.000,” kata Ibu Risma.
Peserta lainnya, Ibu Asri, mengatakan sebagian masyarakat masih merasa heran ketika harus membayar kantong belanja setelah membeli barang dari sebuah toko.
Menurutnya, masih terdapat anggapan bahwa kantong belanja seharusnya diberikan secara gratis sebagai bagian dari pelayanan kepada konsumen.
“Kami heran biasa ditawari kantong, padahal sudah membeli barang di toko dan masih dikenakan biaya lagi untuk kantong tersebut,” ujar Ibu Asri.
Tanggapan peserta tersebut menunjukkan bahwa upaya mengurangi penggunaan plastik tidak hanya bergantung pada penyediaan kantong ramah lingkungan.
Masyarakat juga membutuhkan penjelasan mengenai alasan pembatasan kantong plastik dan manfaat membawa tas belanja sendiri dari rumah.
Menanggapi hal tersebut, Muhammad Fikhar mengatakan penggunaan reusable tote bag tidak berarti masyarakat harus selalu membeli tas baru setiap berbelanja.
“Tidak perlu terus membeli tote bag baru. Tas atau kantong belanja yang sudah tersedia di rumah dan masih layak dapat digunakan kembali,” kata Fikhar.
Menurutnya, penggunaan satu tas secara berulang lebih sesuai dengan tujuan pengurangan sampah dibandingkan membeli banyak tote bag tetapi jarang menggunakannya.
Ia menyarankan masyarakat menempatkan tas belanja di lokasi yang mudah terlihat, seperti di kendaraan, dalam tas sehari-hari, atau dekat pintu rumah.
Cara tersebut dapat membantu masyarakat mengingat untuk membawa tas sendiri sebelum pergi berbelanja.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga memperoleh materi mengenai dampak sampah plastik terhadap lingkungan, manfaat reusable tote bag, cara membangun kebiasaan membawa tas belanja sendiri, dan cara merawat tote bag agar dapat digunakan lebih lama.
Standing banner dan buku saku digunakan sebagai media edukasi agar informasi yang disampaikan tidak hanya diterima selama kegiatan, tetapi juga dapat dipelajari kembali oleh peserta di rumah.
Mahasiswa turut membagikan reusable tote bag sebagai suvenir dan sarana awal bagi masyarakat untuk menerapkan kebiasaan belanja minim plastik.
Fikhar mengatakan perubahan kebiasaan perlu dilakukan secara bertahap dan dimulai dari kegiatan sederhana yang sering dilakukan masyarakat.
“Kebiasaan membawa tas belanja sendiri mungkin terlihat kecil, tetapi apabila dilakukan secara konsisten oleh banyak orang, jumlah kantong plastik yang digunakan dapat berkurang,” jelasnya.
Program tersebut berkontribusi terhadap SDGs 4: Quality Education melalui edukasi lingkungan serta SDG 15: Life on Land melalui pengurangan sampah plastik di lingkungan daratan.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak lagi memandang kantong belanja berbayar hanya sebagai biaya tambahan, tetapi memahami kebijakan tersebut sebagai salah satu upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
( UN )

















