chakra- news.com // JAKARTA UTARA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jakarta Utara menggelar dialog bersama sejumlah wartawan dan tamu undangan untuk membahas sistem desil dan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor BPS Jakarta Utara, Jalan Berdikari No. 1, Rawa Badak Utara, Koja, Jakarta Utara, Selasa (27/10/2026).
Dialog ini bertujuan meningkatkan pemahaman insan pers mengenai pengelompokan tingkat kesejahteraan masyarakat serta pemanfaatan data sosial ekonomi sebagai salah satu dasar perencanaan program pemerintah, termasuk penyaluran bantuan sosial.
Kepala BPS Jakarta Utara, Theresia Parwati, menyampaikan bahwa pihaknya terbuka terhadap masyarakat maupun berbagai kalangan yang ingin memperoleh informasi terkait desil dan statistik kependudukan.
Menurutnya, komunikasi dan keterbukaan informasi menjadi bagian penting agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang benar mengenai data statistik.
Sementara itu, Nila Windiyarti, Ahli sekaligus Ketua Tim Fungsi Statistik Sosial BPS Jakarta Utara, menjelaskan bahwa pemerintah tengah mendorong integrasi berbagai sumber data sosial ekonomi ke dalam satu basis data nasional.
Ia menekankan pentingnya pemahaman mengenai desil dan DTSEN, termasuk cara membaca, menggunakan, serta menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakat secara tepat.
Desil merupakan pengelompokan rumah tangga ke dalam sepuluh kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan.
Semakin rendah angka desil, semakin rendah posisi kesejahteraan rumah tangga tersebut dibandingkan kelompok lainnya.
Adapun DTSEN menjadi basis data terpadu yang mendukung perencanaan, evaluasi kebijakan, serta penyusunan program sosial agar lebih terarah.
Meski demikian, penentuan penerima bantuan tetap mengacu pada ketentuan dan kriteria masing-masing program.
Melalui dialog ini, BPS Jakarta Utara berharap wartawan dapat menyampaikan informasi mengenai desil dan DTSEN secara akurat, berimbang, serta mudah dipahami masyarakat, sehingga pemanfaatan data statistik dapat mendukung kebijakan publik yang lebih tepat sasaran.
( R Rumandan)



















