Kemacetan Tol Jakarta-Cikampek Bikin Biaya Logistik Nasional Tinggi

Uncategorized685 Dilihat
banner 468x60

chakra-news.com – Jakarta – Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM), Dedi Rohman mengungkap hasil penelitian lembaganya periode Juli-Agustus 2025, terkait kemacetan lalu lintas yang berdampak kerugian bagi angkutan logistik.

banner 336x280

Dedi menjelaskan kemacetan lalu lintas memberikan dampak negatif yang sangat besar bagi pengguna jalan seperti pemborosan bahan bakar, terbuangnya waktu secara percuma, dan kerusakan lingkungan akibat polusi udara yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor.

“Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam menganalisis besaran kerugian akibat kemacetan. Lokasi yang ditinjau pada penelitian ini yaitu ruas jalan tol Jakarta-Cikampek,” kata Dedi Rohman dalam keterangan tertulisnya Sabtu, (18/10/2025).

Menurut Dedi, Penelitian ini memfokuskan pembahasan pada kerugian berdasarkan biaya operasional kendaraan (BOK) menggunakan pedoman biaya operasi kendaraan Kementerian Pekerjaan Umum Tahun 2025.

Kemudian, biaya waktu perjalanan menggunakan metode income approach untuk penentuan nilai waktu, dan biaya emisi yang mengacu pada Permen LH Nomor 7 Tahun 2014 Mengenai biaya per unit pencemarannya.

Berdasarkan hasil analisis IDM, diperoleh besaran kerugian dari Biaya Operasional Kendaraan (BOK) sebesar Rp 134.725,51/km dengan rincian biaya untuk kendaraan jenis Light Vehicle, seperti mikrobis, pickup, dan truk kecil sebesar Rp 30.209,10/km, jenis MHV atau Medium to Heavy Good Vehicles atau Kendaraan Berat Menengah sebesar Rp 26.407,76/km, jenis LB (Large Buss) sebesar Rp 27.309,12/km dan jenis LT (Large Truck) sebesar Rp 50.799,52.

Dedi mengatakan besaran kerugian berdasarkan biaya waktu perjalanan sebesar Rp 1.907.353,40/jam, dan besaran kerugian berdasarkan biaya emisi Rp 598.593,03/jam.

“Dapat disimpulkan bahwa biaya waktu perjalanan menjadi aspek dengan besaran kerugian tertinggi akibat kemacetan, hal ini dikarenakan aspek ini lebih merepresentasikan nilai dari produktivitas manusia,” tutur Dedi.

Menurut hasil penelitian IDM, Kemacetan Tol Jakarta-Cikampek setiap tahunnya menyebabkan kerugian ekonomi hingga sebesar Rp 76 Triliun lebih dengan asumsi sekitar 110 ribu kendaraan besar yang melintas di ruas tol itu setiap harinya, dari sisi besaran kerugian berdasarkan biaya waktu perjalanan.

“Dan, berdasarkan besaran kerugian berdasarkan biaya emisi, sebesar Rp 23,9 Triliun,” ujar Dedi.

Oleh karena itu, IDM mendorong Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Korlantas Polri melakukan perubahan arah lalu lintas angkutan truk-truk besar atau truk yang membawa kontainer alias peti kemas yang keluar masuk dari Pelabuhan Tanjung Priuk dengan tujuan Cikarang, Karawang harus di alihkan ke Ruas Tol Cibitung–Cilincing (Cibicil) yang menghubungkan kawasan industri di Cibitung dengan Pelabuhan Tanjung Priok, Cilincing.

“Jalan tol ini merupakan bagian dari jaringan JORR 2 dan berfungsi untuk mempercepat alur logistik dan menurunkan biaya ekonomi tinggi akibat waktu perjalanan yang lama dan kerugian berdasarkan biaya emisi, sehingga kendaraan dari dan menuju Pelabuhan Tanjung tidak perlu masuk ke pusat kota Jakarta,” papar Dedi.

Menurut Dedi, target Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen hingga 2029 harus didukung oleh biaya logistik nasional yang ekonomis. Namun, akibat kemacetan di ruas jalan Tol Jakarta-Cikampek yang menyebabkan biaya logistik nasional membengkak, target itu bakal sulit tercapai.

“Sangat tidak mungkin. Biaya logistik nasional pada 2025 masih tinggi, dengan target pemerintah untuk menurunkannya dari sekitar 14,5 % menjadi 12,5% pada 2029, serta target cepat mencapai 8% dari PDB dalam lima tahun ke depan (2030),” pungkas Dedi Rohman.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


News Feed