Jakarta // chakra-news com — Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) kembali menggelar kegiatan tahunan “Berkain” pada Agustus 2025. Agenda ini menjadi bagian dari upaya menjaga budaya nusantara dan memperkuat persatuan bangsa melalui kain tradisional.
Sejak berdiri pada 2014, KCBI konsisten mengangkat kain sebagai simbol identitas bangsa. Setiap tahun, kegiatan berkain rutin dilakukan pada bulan Agustus, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan.
“Kami ingin masyarakat mencintai kain sebagai jati diri bangsa,” kata Ketua KCBI, Ibu Kebayang, di Jakarta, Minggu (24/8/2025).
Sejarah dan Konsistensi KCBI Kegiatan berkain sudah dijalankan sejak 2016 dan melibatkan banyak komunitas budaya. Tradisi ini lahir dari kesadaran pentingnya melestarikan warisan bangsa yang kian tergerus modernisasi.
KCBI menggandeng berbagai sekolah, komunitas budaya, hingga Ikatan Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI). Kolaborasi ini dimaksudkan agar generasi muda mengenal budaya kain sekaligus menghargai jasa pahlawan.
“Berkain bukan sekadar pakaian. Ini simbol persatuan, penghormatan, dan penghargaan pada leluhur,” ujar Kebayang.
Makna Berkain di Era Modern Kain tradisional sering dianggap kuno dan hanya digunakan saat acara formal. Melalui program ini, KCBI ingin mengubah persepsi masyarakat.
Menurut Kebayang, kain memiliki filosofi mendalam. Setiap motif menyimpan cerita, nilai, dan doa dari pembuatnya. Kain juga menjadi cermin kebinekaan, karena tiap daerah memiliki ragam corak berbeda.
“Kita bisa menjaga persatuan lewat budaya, salah satunya kain,” tegasnya. Sinergi dengan Komunitas Pahlawan Tahun ini, KCBI menjalin kerja sama dengan Ikatan Pahlawan Nasional Indonesia. Kolaborasi ini menghadirkan narasi baru tentang perjuangan bangsa yang selaras dengan semangat berkain.
Perwakilan IKPNI, Bambang Sutrisno, menyebut kegiatan ini relevan dengan kondisi bangsa saat ini.
“Pahlawan mengajarkan kita arti persatuan. Kain juga mengikat kebersamaan bangsa,” ujar Bambang.
Program Tahunan untuk Kebersamaan
Kegiatan berkain rutin digelar setiap Agustus dengan berbagai rangkaian acara. Mulai dari peragaan kain nusantara, diskusi budaya, hingga lokakarya pembuatan kain.
Selain itu, KCBI juga mengajak peserta dari kalangan muda untuk mengenakan kain dalam aktivitas sehari-hari.
“Kami ingin kain kembali dekat dengan generasi muda,” kata Kebayang.Harapan untuk Bangsa KCBI menegaskan tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar melestarikan kain, melainkan memperkuat persatuan.
“Harapan kami persatuan bangsa, kejayaan, dan kesejahteraan bisa tercapai lewat budaya,” tutur Kebayang.
Ia menambahkan, melalui kain, masyarakat belajar menghargai identitas sendiri. Dengan begitu, rasa bangga pada bangsa akan tumbuh lebih kuat.
Tantangan Pelestarian Budaya Meski semangat berkain terus digaungkan, KCBI mengakui tantangan tidak ringan. Modernisasi dan budaya instan membuat generasi muda kurang tertarik memakai kain.
Namun, KCBI optimistis gerakan ini dapat menjadi gaya hidup baru.
“Kain bisa modern, bisa fleksibel, dan tetap elegan,” kata Kebayang.Antusiasme Masyarakat Acara tahun ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Sejumlah komunitas budaya hadir memamerkan kain daerah, mulai dari batik, songket, hingga ulos.
Pengunjung juga antusias mengikuti lokakarya mengenal motif kain nusantara. Seorang peserta, Siti Nurhaliza, mengaku kegiatan ini membuka wawasan baru.
“Selama ini saya jarang memakai kain. Sekarang saya tahu maknanya sangat dalam,” kata Siti.
Menjaga Jati Diri Bangsa KCBI percaya pelestarian budaya menjadi kunci menjaga jati diri bangsa. Berkain bukan sekadar tradisi, melainkan cara menghargai nilai leluhur.
“Kain membuat kita menghargai diri sendiri, menghargai bangsa,” ujar Kebayang.
Penutup :
Kegiatan berkain yang digagas KCBI telah menjadi program tahunan dengan makna mendalam. Lebih dari sekadar mengenakan kain, acara ini menjadi simbol persatuan, kebersamaan, dan penghargaan pada identitas bangsa.
Dengan melibatkan komunitas budaya dan pahlawan nasional, KCBI berharap semangat cinta kain tumbuh di seluruh lapisan masyarakat.
“Berkain adalah cara sederhana merawat persatuan bangsa,” tegas Kebayang.
( Red )
