Chakra – News .Com //Jakarta, – Presiden Prabowo Subianto resmi mengumumkan di istana negara bahwa pengemudi ojek online dan kurir berbasis aplikasi akan mendapatkan bonus Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Keputusan ini disambut baik oleh berbagai pihak, termasuk Migrant Watch, yang selama ini memperjuangkan hak-hak pekerja gig economy.
Namun, Migrant Watch mengingatkan bahwa kebijakan ini tidak boleh hanya menjadi gimmick politik sesaat. Para pengemudi ojek online membutuhkan kepastian hukum dan perlindungan jangka panjang.
“Keputusan ini harus diikuti dengan regulasi yang lebih konkret. Jika tidak, kesejahteraan pengemudi ojol akan tetap bergantung pada kebijakan aplikator yang sering berubah-ubah. Tanpa regulasi yang jelas, mereka akan terus terjebak dalam eksploitasi,” ujar Direktur Eksekutif Migrant Watch, Aznil Tan.
Migrant Watch menyoroti bahwa eksploitasi terselubung oleh aplikator masih menjadi permasalahan utama. Saat ini, potongan komisi yang dikenakan kepada pengemudi bisa mencapai 20-30% per perjalanan, yang dinilai terlalu besar.
“Perjuangan sesungguhnya bagi pengemudi ojol dan kurir adalah lahirnya regulasi yang membatasi pemotongan komisi maksimal 10%. Tanpa aturan yang jelas, aplikator akan terus melakukan eksploitasi atas nama kemitraan,” tegas Aznil Tan, yang juga merupakan aktivis 98.
Selain masalah pemotongan komisi, Migrant Watch menekankan pentingnya transparansi dalam sistem kemitraan dan algoritma aplikator.
“Pengemudi harus memiliki akses transparan terhadap bagaimana order dialokasikan dan bagaimana sistem menentukan insentif mereka. Tanpa kejelasan ini, aplikator dapat dengan mudah mengontrol pendapatan mereka tanpa akuntabilitas yang jelas,” imbuhnya.
Untuk jangka panjang, Migrant Watch mendesak Presiden Prabowo Subianto agar mengambil langkah konkret dalam memastikan keadilan bagi pekerja gig economy di Indonesia.
“Jika di negara lain seperti Inggris dan Spanyol, pengemudi ojol telah diakui sebagai pekerja dengan hak-hak dasar, maka Indonesia tidak boleh tertinggal dalam melindungi jutaan pekerja gig economy yang menjadi tulang punggung ekonomi digital kita,” pungkasnya
( Rudy Coi)
